Dalam sebuah wawancara terbaru, jurnalis dan mantan pembawa acara Fox News, Tucker Carlson, mengungkapkan klaim mengejutkan tentang dugaan upaya pemerintahan Joe Biden untuk menyingkirkan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pernyataan ini sontak memicu beragam spekulasi di tengah konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.
Carlson menyampaikan bahwa beberapa pejabat dan mantan pejabat Amerika Serikat merasa cemas dengan rencana Presiden Donald Trump yang ingin mengungkap berbagai dokumen rahasia pemerintah. Menurutnya, ada kepanikan di kalangan elite politik Washington terkait dampak dari kebijakan tersebut.
“Salah satu alasan [mantan Menteri Luar Negeri] Antony Blinken sangat mendorong keterlibatan dalam perang adalah karena mereka benar-benar mencoba menghabisi Putin,” ujar Carlson dalam wawancara yang dikutip dari Russia Today. Ia juga menambahkan bahwa tindakan semacam itu berisiko besar terhadap stabilitas global.
Meski tidak memberikan bukti konkret mengenai dugaan tersebut, Carlson menyoroti bahaya dari sebuah skenario di mana kepemimpinan Rusia mengalami kekosongan. “Siapa yang akan mengambil alih Rusia jika Putin tidak ada? Apa yang akan terjadi dengan persenjataan nuklir mereka? Ini adalah sesuatu yang benar-benar gila untuk dipikirkan,” tambahnya.
Sejauh ini, pemerintah Amerika Serikat belum pernah mengakui adanya rencana semacam itu. Namun, laporan dari Newsweek pada September 2022 sempat mengungkap bahwa para pejabat pertahanan AS pernah membahas opsi “serangan pemenggalan kepala” sebagai respons jika Rusia menggunakan senjata nuklir di Ukraina.
Di pihak lain, Rusia telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menggunakan senjata nuklir dalam konflik ini. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, bahkan menafsirkan istilah “serangan pemenggalan kepala” sebagai ancaman langsung terhadap pemimpin negaranya. “Jika ini benar-benar dipertimbangkan, mereka yang terlibat seharusnya berpikir matang-matang tentang konsekuensinya,” ujar Lavrov.
Rusia sendiri juga pernah menuding adanya upaya pembunuhan terhadap Putin. Pada Mei 2023, Kremlin mengklaim telah menggagalkan serangan drone yang disebut sebagai percobaan pembunuhan terhadap pemimpin mereka. Namun, Ukraina membantah keterlibatannya, sementara AS menegaskan bahwa mereka tidak mengetahui rencana serangan tersebut.
Carlson, yang sebelumnya sempat mewawancarai Putin pada Februari 2024, kembali mengunjungi Rusia pada Desember tahun yang sama untuk bertemu dengan Lavrov. Pernyataannya kali ini kembali memanaskan perdebatan tentang seberapa dalam keterlibatan AS dalam konflik geopolitik global.
Terlepas dari kebenaran klaim ini, pernyataan Carlson tentu menjadi perbincangan hangat di dunia politik dan keamanan internasional. Apakah ini hanya teori konspirasi atau benar-benar ada agenda tersembunyi? Publik kini menantikan klarifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.