Novak Djokovic, salah satu petenis terbaik sepanjang masa, kembali dihadapkan pada kenyataan pahit dunia olahraga. Kurang dari setengah jam setelah terpaksa mundur dari semifinal Australia Terbuka 2025 melawan Alexander Zverev, Djokovic dengan tenang menerima situasi yang terjadi.
“Cedera adalah musuh terbesar seorang atlet profesional,” ujarnya dalam konferensi pers di Melbourne Park, Jumat (24/1).
Pria berusia 37 tahun ini menyadari bahwa usianya semakin mendekati ujung perjalanan kariernya. Pada fase ini, cedera menjadi ancaman nyata yang dapat menghentikan langkahnya kapan saja.

Cedera yang Menghentikan Langkah Djokovic
Djokovic mengalami robekan otot di kaki kirinya saat menghadapi Carlos Alcaraz di perempat final. Meskipun telah melakukan berbagai upaya pemulihan dalam waktu singkat, kondisi tubuhnya belum cukup pulih untuk menghadapi Zverev di semifinal.
“Saya tahu ini akan menjadi perjuangan berat,” ungkapnya.
Namun, Djokovic tetap memandang situasi ini sebagai bagian dari risiko di olahraga tenis, yang tidak memungkinkan adanya pergantian pemain. “Di olahraga kami, jika ada yang salah, Anda harus menghadapi konsekuensinya sendiri. Dan itu salah satu alasan saya mencintai olahraga ini,” tambahnya.
Rekam Jejak Cedera Djokovic
Cedera bukanlah hal baru bagi Djokovic. Pada 2017, cedera siku memaksanya mengakhiri musim lebih awal dan menjalani operasi pada awal 2018. Ia sempat terpuruk hingga peringkat 22 dunia. Namun, Djokovic bangkit dan kembali mendominasi dunia tenis, memenangkan tiga gelar Grand Slam berturut-turut serta merebut kembali peringkat satu dunia.
Kemenangan di Australia Terbuka 2021 menjadi bukti ketangguhannya saat berhasil mengatasi cedera perut. Hal serupa terjadi pada 2023 ketika ia berjuang melawan cedera hamstring untuk meraih gelar juara.
Namun, kini pertanyaan besar muncul: Bisakah Djokovic kembali pulih dan melanjutkan dominasinya di dunia tenis?
Melangkah ke Masa Depan dengan Harapan
Djokovic mengakui bahwa cedera mulai menjadi kekhawatiran setiap kali ia menghadapi Grand Slam. “Statistik tidak berpihak pada saya dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.
Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Djokovic tetap bertekad untuk memenangkan lebih banyak gelar meskipun tantangan semakin berat.
Ketika ditanya apakah Australia Terbuka 2025 menjadi penampilan terakhirnya di Melbourne Park, Djokovic menjawab dengan optimisme. “Selalu ada peluang,” ujarnya.
Australia, bagi Djokovic, adalah panggung yang penuh kenangan indah. “Turnamen ini akan selalu menjadi Grand Slam terbaik di kepala dan hati saya,” tuturnya dengan penuh harapan.