26.2 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Israel Lakukan Genosida di Gaza, Ini Penjelasan Profesor Yahudi Ilan Pappe

WorldMiddle East & AfricaIsrael Lakukan Genosida di Gaza, Ini Penjelasan Profesor Yahudi Ilan Pappe

Korban Jiwa Capai Puluhan Ribu

Krisis kemanusiaan di Gaza mencapai titik nadir. Militer Israel kembali melakukan serangan besar-besaran yang diduga telah mengakibatkan genosida terhadap rakyat Palestina. Tidak hanya serangan udara, militer Israel juga mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza. Akibatnya, puluhan ribu warga Palestina kehilangan nyawa, termasuk anak-anak dan balita. Menurut laporan, jumlah korban tewas telah melebihi 45 ribu jiwa, dengan sebagian besar korban akibat kelaparan, cuaca ekstrem, dan kurangnya akses medis.

Video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan penderitaan warga Palestina. Salah satunya adalah rekaman seorang ayah yang menggotong jenazah anaknya yang masih berlumuran darah. Ada pula dokumentasi salat jenazah massal, tangisan wanita dan anak-anak yang meminta makanan, serta balita yang meninggal akibat gizi buruk. Meskipun berbagai kesaksian ini telah tersebar luas, Israel tetap melanjutkan serangan tanpa menunjukkan tanda-tanda penyesalan.

Akar Masalah: Kurikulum Pendidikan yang Bermasalah

Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Profesor Yahudi Ilan Pappe menyatakan bahwa akar dari tindakan brutal ini terletak pada sistem pendidikan di Israel. “Sejak usia dini, anak-anak Israel diajarkan bahwa mereka adalah bangsa terunggul dan Palestina adalah musuh yang harus disingkirkan. Pemikiran ini menciptakan generasi yang rasis dan tidak memiliki empati terhadap sesama manusia,” ungkap Pappe.

Pappe menyoroti bahwa kurikulum pendidikan Israel membentuk pandangan supremasi yang membenarkan tindakan kekerasan terhadap Palestina. Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Eropa, di mana nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan lebih ditekankan.

Siklus Kebiadaban: Efek Jangka Panjang bagi Israel

Menurut Pappe, tindakan genosida ini tidak hanya menghancurkan rakyat Palestina tetapi juga membawa dampak buruk bagi Israel sendiri. “Negara yang dibangun di atas kebiadaban dan ekstremisme tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, kejahatan ini akan kembali kepada mereka,” tegasnya. Pappe memperingatkan bahwa Zionisme modern telah berubah menjadi neozionisme yang ekstrem, dan ini hanya akan mempercepat kehancuran Israel.

Dukungan Amerika Serikat Mulai Goyah?

Dukungan Amerika Serikat kepada Israel selama ini menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan tindakan agresif Israel. Namun, situasi geopolitik yang semakin kompleks membuat dukungan ini terancam berkurang.

Amerika kini menghadapi tantangan besar, mulai dari bencana alam hingga meningkatnya tekanan ekonomi global. Presiden baru yang lebih populis diperkirakan akan lebih fokus pada kepentingan dalam negeri, yang dapat mengurangi perhatian terhadap isu-isu luar negeri, termasuk dukungan untuk Israel.

Penyiksaan dalam Penjara: Kasus Moataz Abu Zneid

Di sisi lain, pelanggaran hak asasi manusia terhadap tahanan Palestina terus berlanjut. Salah satu kasus terbaru adalah kematian Moataz Abu Zneid, seorang tahanan asal Dura, Hebron. Abu Zneid meninggal dunia setelah mengalami penyiksaan dan kelalaian medis di penjara Israel. Menurut laporan Komisi Tahanan Palestina, ia ditahan tanpa tuduhan sejak Juni 2023 dan mengalami kondisi kesehatan yang memburuk akibat perlakuan tidak manusiawi di penjara.

Organisasi hak asasi manusia menyatakan bahwa sejak Oktober 2023, sebanyak 68 tahanan Palestina meninggal di penjara Israel akibat penyiksaan atau kelalaian medis. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah penahanan sejak 1967. “Apa yang terjadi pada para tahanan adalah bagian dari perang pemusnahan sistematis yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina,” tegas Komisi Tahanan Palestina.

Panggilan untuk Tindakan Internasional

Lembaga-lembaga HAM internasional terus mendesak komunitas global untuk mengambil langkah tegas terhadap Israel. Mereka menyerukan agar kejahatan perang yang dilakukan Israel segera diselidiki dan dijatuhi sanksi internasional yang berat.

Saat ini, lebih dari 10.400 tahanan Palestina masih mendekam di penjara Israel, termasuk 320 anak-anak dan 85 perempuan. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, dengan banyak yang menjadi korban penyiksaan, kelaparan, dan perawatan medis yang disengaja diabaikan. Jika situasi ini dibiarkan, jumlah korban diperkirakan akan terus meningkat.

Kesimpulan

Krisis kemanusiaan di Gaza adalah tragedi yang membutuhkan perhatian mendesak dari dunia internasional. Tindakan Israel yang terus melakukan genosida dan pelanggaran hak asasi manusia hanya akan memperburuk situasi. Jika komunitas global tidak segera bertindak, dampaknya tidak hanya akan menghancurkan Palestina, tetapi juga merusak kredibilitas nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh masyarakat internasional.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles