29 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Bank Indonesia Salurkan Rp 295 Triliun untuk Insentif Likuiditas Makroprudensial

Finance and MarketsBank Indonesia Salurkan Rp 295 Triliun untuk Insentif Likuiditas Makroprudensial

Peningkatan Signifikan Dibandingkan Tahun Lalu

Jakarta, (Newsindomedia) — Bank Indonesia (BI) telah menyalurkan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp 295 triliun hingga pekan kedua Januari 2025. Jumlah ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar Rp 36 triliun dibandingkan dengan posisi akhir Oktober 2024.

Dalam konferensi pers yang berlangsung di kantor pusat BI, Jakarta Pusat, pada Rabu, 15 Januari 2025, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa insentif ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kredit pembiayaan perbankan pada 2025. “Tujuannya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, termasuk memperkuat program-program pemerintah dalam mencapai cita-cita pembangunan,” ujar Perry.

Peran Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM)

KLM adalah salah satu kebijakan strategis Bank Indonesia untuk mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan ke sektor-sektor prioritas yang dinilai penting bagi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Data terbaru menunjukkan bahwa porsi terbesar KLM disalurkan kepada Bank Umum Swasta Nasional (BUSN), dengan nilai mencapai Rp 130,6 triliun.

Sementara itu, bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menerima insentif sebesar Rp 129,1 triliun. Bank Pembangunan Daerah (BPD) mendapatkan alokasi Rp 29,9 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) memperoleh Rp 5 triliun. Perry menegaskan bahwa bank penerima insentif KLM diharapkan dapat meningkatkan pembiayaan di sektor-sektor seperti pertanian, perdagangan, manufaktur, transportasi, pergudangan, pariwisata, ekonomi kreatif, konstruksi real estate, perumahan rakyat, dan UMKM.

Kinerja Kredit pada 2024

Pada 2024, peran kredit pembiayaan terbukti menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi, dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 10,39 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut berada dalam rentang perkiraan BI, yaitu 10-12 persen. Berdasarkan penggunaannya, kredit modal kerja tumbuh sebesar 8,35 persen (yoy), kredit investasi meningkat 13,62 persen (yoy), dan kredit konsumsi naik 10,61 persen (yoy). Pembiayaan syariah juga menunjukkan peningkatan sebesar 9,87 persen secara tahunan, sementara kredit untuk UMKM tumbuh sebesar 3,37 persen.

Proyeksi Pertumbuhan Kredit di 2025

Melihat prospek 2025, pertumbuhan kredit diproyeksikan berada dalam kisaran 11-13 persen, sejalan dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang tetap positif. Perry menambahkan, “Proyeksi ini didukung oleh kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang terus mengakomodasi kebutuhan pembiayaan di sektor-sektor strategis.”

 

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles