31.3 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Ketegangan Meningkat: Serangan Udara Israel Saat Gencatan Senjata Gaza

WorldMiddle East & AfricaKetegangan Meningkat: Serangan Udara Israel Saat Gencatan Senjata Gaza

Gaza, (Newsindomedia) — Dalam perkembangan terbaru konflik di Jalur Gaza, juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Obeida, mengungkapkan kekhawatiran serius terkait keselamatan para sandera. Pernyataan ini muncul setelah laporan bahwa pasukan Israel (IDF) menyerang lokasi yang diduga menampung seorang sandera wanita, yang sebenarnya direncanakan untuk dibebaskan dalam tahap pertama kesepakatan gencatan senjata.

Abu Obeida menegaskan bahwa tindakan Israel tersebut dapat mengancam nyawa para sandera. “Setiap tindakan agresi dan pemboman pada tahap ini berpotensi mengubah proses pembebasan menjadi tragedi,” katanya melalui unggahan di Telegram yang dikutip dari Palestine Chronicle. Hingga saat ini, belum ada informasi pasti mengenai nasib sandera setelah serangan tersebut.

Kesepakatan Gencatan Senjata yang Ditengahi Qatar

Sementara itu, Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengumumkan keberhasilan mediasi yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Perjanjian ini, yang mulai berlaku pada Minggu, 19 Januari 2025, dirancang untuk meredakan konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Dalam perjanjian tersebut, Israel sepakat membebaskan 30 tahanan Palestina untuk setiap sandera Israel yang dilepaskan, serta 50 tahanan Palestina tambahan untuk setiap tentara wanita Israel yang ditahan di Gaza. Tahap awal kesepakatan ini memprioritaskan pembebasan sandera perempuan dan anak-anak di bawah usia 19 tahun. Menurut laporan Al-Arabiya, selama 42 hari pertama, sebanyak 33 sandera Israel dijadwalkan dibebaskan, dengan potensi jumlah tahanan Palestina yang dibebaskan mencapai hingga 1.650 orang.

Serangan Udara Israel di Tengah Gencatan Senjata

Namun, ketegangan tetap memanas setelah pengumuman gencatan senjata. Hanya beberapa jam setelah perjanjian tersebut disampaikan, pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah di Gaza. Serangan ini dilaporkan menewaskan 71 warga Palestina, termasuk 19 anak-anak dan 24 wanita, serta melukai lebih dari 200 orang lainnya.

Serangan ini memicu kecaman internasional, mengingat perjanjian gencatan senjata bertujuan untuk mengurangi eskalasi. Hingga saat ini, total korban tewas akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah melampaui 46.800 jiwa, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Dampak Konflik yang Menghancurkan

Selain jatuhnya korban jiwa, agresi militer Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza, mengakibatkan hampir seluruh penduduknya — sekitar 2,3 juta orang — kehilangan tempat tinggal. Resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera diabaikan, sementara serangan tanpa henti terus berlangsung.

Harapan Perdamaian di Tengah Ketidakpastian

Kesepakatan gencatan senjata ini dianggap sebagai langkah awal menuju perdamaian, meski realisasinya masih dirundung banyak tantangan. Upaya mediasi internasional, terutama oleh Qatar, menjadi harapan bagi rakyat Gaza yang tengah menderita akibat konflik berkepanjangan.

Namun, serangan terbaru menunjukkan bahwa perdamaian di wilayah tersebut masih jauh dari jangkauan. Masyarakat internasional kini menunggu langkah-langkah selanjutnya untuk memastikan keselamatan sandera dan warga sipil, serta penghentian kekerasan yang telah menelan begitu banyak korban jiwa.

Check out our other content

Sourcesource

Check out other tags:

Most Popular Articles