Ottawa, Kanada – (Newsindomedia) – Pemerintah Kanada dilaporkan telah menyusun daftar awal barang-barang buatan Amerika Serikat senilai C$150 miliar atau US$105 miliar yang akan dikenakan tarif balasan. Langkah ini disiapkan sebagai respons jika Presiden terpilih AS, Donald Trump, memutuskan untuk memberlakukan tarif terhadap produk Kanada setelah resmi menjabat.
Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (16/1/2025), sumber anonim yang mengetahui rencana tersebut mengungkapkan bahwa daftar tersebut masih berupa draf dan hanya akan diberlakukan jika AS lebih dulu mengambil langkah proteksionis. Daftar tersebut belum dipublikasikan, namun pejabat terkait menyebutkan kemungkinan adanya penambahan barang-barang lain tergantung pada tindakan AS selanjutnya.
Sejarah Tarif dan Respons Kanada
Langkah ini mengingatkan pada respons Kanada pada 2018, ketika Trump mengenakan tarif pada baja dan aluminium Kanada. Saat itu, Kanada membalas dengan tarif pada produk-produk AS seperti wiski dan mesin cuci. Tindakan tersebut dirancang untuk memberikan tekanan pada wilayah-wilayah strategis di mana Partai Republik memiliki pengaruh besar. Namun, nilai total barang yang terkena tarif balasan hanya sekitar C$16,6 miliar.
Saat ini, Kanada mengimpor barang-barang AS senilai C$487 miliar dalam setahun hingga November 2024. Jika tarif baru diberlakukan, hampir sepertiga dari nilai tersebut akan terkena dampak.
Pemimpin Kanada Bersatu Menghadapi Ancaman Tarif
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau bersama para pemimpin dari 12 dari 13 provinsi dan teritori bertemu di Ottawa pada Rabu (15/1/2025) untuk merumuskan strategi menghadapi potensi ancaman proteksionisme AS. Mereka sepakat untuk bekerja sama memastikan tanggapan yang kuat.
Namun, tidak semua provinsi mendukung penuh langkah tersebut. Perdana Menteri Alberta, Danielle Smith, menolak rencana yang mencakup pengenaan pajak atau pembatasan ekspor energi, dengan alasan hal itu dapat merugikan provinsinya yang menjadi pemasok utama minyak ke AS.
“Sampai ancaman ini dihentikan, Alberta tidak akan mendukung kebijakan federal yang membahayakan pasokan energi kami ke AS,” tegas Smith dalam pernyataannya. Alberta sendiri menyumbang sebagian besar dari sekitar 4 juta barel ekspor minyak Kanada setiap hari ke AS, yang mencakup lebih dari setengah impor minyak mentah AS.
Seruan untuk Persatuan Nasional
Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, menekankan pentingnya persatuan di tengah ancaman ini. Dalam pertemuan tersebut, Ford mengenakan topi biru bertuliskan “Kanada Tidak Untuk Dijual”, sebagai simbol sikap tegas terhadap kebijakan AS.
“Ketika Trump menyerang, dia tidak akan memisahkan Ontario dari Alberta. Serangan ini ditujukan untuk seluruh warga Kanada. Kita harus bersatu,” ujar Ford. Ia juga mendukung kebijakan tarif balasan, dengan menyatakan bahwa “kita tidak bisa membiarkan diri dipukul tanpa membalas dua kali lebih keras.”
Peluang di Tengah Ketegangan
Meski ancaman tarif mendominasi pembicaraan, Trudeau tetap menekankan pesan positif. Ia menyoroti peluang untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang energi, dengan menyebut bahwa Kanada memiliki mineral penting yang dibutuhkan untuk transformasi ekonomi AS.
“Jika mereka tidak mendapatkannya dari Kanada, mereka akan mendapatkannya dari China,” kata Trudeau, menegaskan pentingnya kemitraan strategis antara kedua negara.
Namun, perbedaan pandangan antara provinsi-provinsi Kanada menunjukkan bahwa tantangan internal juga dapat menghambat respons yang terkoordinasi terhadap kebijakan AS. Dalam situasi ini, langkah Kanada untuk melindungi kepentingan ekonominya akan sangat bergantung pada kemampuan para pemimpinnya untuk mengatasi perpecahan politik dan regional.
Dengan Trump yang dijadwalkan resmi menjabat dalam waktu dekat, dinamika hubungan perdagangan AS-Kanada tampaknya akan kembali memanas, menjadikan respons strategis Kanada sebagai faktor kunci dalam menjaga kestabilan ekonominya.
Baca Juga