Jakarta, (Newsindomedia) — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengungkapkan rencana merger antara PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) dan anak usaha PT Pertamina, Pelita Air. Meski masih dalam tahap kajian, Erick memastikan penggabungan ini akan terealisasi demi memenuhi kebutuhan armada pesawat di Indonesia.
Alasan Utama di Balik Merger
Erick menjelaskan, integrasi ini dilakukan karena jumlah armada pesawat yang tersedia saat ini dianggap belum mencukupi. “Integrasi ini harus terjadi karena jumlah pesawat kita memang tidak cukup,” ungkap Erick Thohir pada Kamis, 9 Januari 2025.
Selain itu, penggabungan ini dirancang untuk mengoptimalkan target pasar masing-masing maskapai. Garuda Indonesia akan difokuskan sebagai maskapai premium, sementara Pelita Air menyasar segmen premium ekonomi. Di sisi lain, Citilink, yang sudah lebih dulu bergabung dengan Garuda, tetap berada di segmen low-cost carrier (LCC).
“Garuda akan menjadi maskapai premium, Pelita Air premium ekonomi, dan Citilink di segmen low-cost. Ini adalah bagian dari konsolidasi yang kami lakukan,” tambah Erick.
Profil Pelita Air
Pelita Air Service (PAS) adalah anak usaha PT Pertamina (Persero) yang telah lama berkiprah di industri penerbangan Indonesia. Berdiri pada 1970, maskapai ini awalnya bernama Pertamina Air Service, yang didirikan untuk mendukung operasional transportasi udara di sektor perminyakan nasional. Pada 24 Januari 1970, perusahaan ini resmi menjadi perseroan dengan nama PT Pelita Air Service (PT PAS).
Transformasi Bisnis
Pada awal berdirinya, Pelita Air fokus pada layanan charter untuk mendukung industri minyak dan gas bumi (migas). Meski sempat mencoba bisnis penerbangan reguler pada tahun 2000, keputusan ini tidak berumur panjang. Pada 2005, Pelita Air kembali fokus pada layanan charter karena dinilai lebih menguntungkan dibandingkan bisnis penerbangan reguler.
Namun, perusahaan terus berinovasi. Pada 2016, Pelita Air memperluas layanan ke bisnis kargo BBM dan jasa aviasi lainnya. Bahkan, pada 2017, perusahaan ini dipercaya untuk mengelola bandara milik Pertamina seperti Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan dan Bandara Warukin di Kalimantan Selatan melalui anak usaha PT Indopelita Aircraft Services.
Kembalinya Bisnis Penerbangan Reguler
Pada 2021, Pelita Air memutuskan untuk kembali memasuki pasar penerbangan reguler. Maskapai ini resmi membuka operasional penerbangan berjadwal pada 2022, dengan rute awal Jakarta-Bali-Jakarta pada 28 April 2022. Kemudian, mereka memperluas rute ke Jakarta-Yogyakarta-Jakarta (20 Juni 2022) dan Jakarta-Surabaya-Jakarta (18 Desember 2022).
Langkah Strategis untuk Masa Depan
Rencana merger antara Garuda Indonesia dan Pelita Air diharapkan mampu menciptakan efisiensi dan memperkuat industri penerbangan nasional. Dengan masing-masing maskapai mengisi segmen pasar yang berbeda, konsolidasi ini berpotensi memberikan manfaat signifikan bagi pelanggan dan industri secara keseluruhan. Erick Thohir memastikan proses ini akan dilakukan secara bertahap dan terencana, meskipun belum ada tenggat waktu yang ditetapkan.
Baca Juga