(Newsindomedia) — Jurnalis senior Israel, Alon Ben-David, mengungkapkan pandangannya yang tajam tentang situasi Israel di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Dalam tulisannya di kolom Maariv, Ben-David menyamakan konflik yang saat ini terjadi dengan perang mahal dan berkepanjangan akibat invasi Israel ke Lebanon pada 1982. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai “jebakan” yang mengancam stabilitas jangka panjang Israel.
Luka yang Belum Sembuh
Menurut Ben-David, Israel memasuki tahun 2025 dalam keadaan terluka, dengan banyak luka yang masih terbuka. Meskipun IDF (Pasukan Pertahanan Israel) mencatat pencapaian militer besar sepanjang 2024, hal itu tidak mampu menciptakan realitas yang lebih baik atau menjadikan Israel tempat yang lebih layak untuk ditinggali. Sebaliknya, Israel semakin terjebak dalam konflik tanpa akhir di Gaza, Lebanon, dan Suriah.
Kondisi Warga Sipil Israel
Di utara Israel, konflik dengan Hizbullah telah memaksa ribuan warga mengungsi dari rumah mereka. Hanya sedikit yang kembali, kebanyakan adalah warga lanjut usia. “Wilayah Metula, dekat perbatasan utara, hampir kosong dari penduduk. Gencatan senjata yang diumumkan belum cukup meyakinkan warga untuk kembali,” tulis Ben-David.
Di selatan, operasi militer IDF di Gaza juga meninggalkan ketidakpastian. Rumah-rumah warga sipil dan fasilitas kesehatan di Gaza utara telah hancur akibat serangan militer. Namun, kemenangan yang diharapkan Israel masih jauh dari jangkauan. “Meski banyak area di Gaza utara telah dikuasai, suara mesin perang tidak membawa kita lebih dekat pada kemenangan sejati,” tegasnya.
Keraguan di Kalangan Militer
Ben-David menyoroti keraguan yang muncul bahkan di antara komandan IDF terkait pentingnya operasi militer di Gaza. Dia menyebutkan bahwa meskipun IDF telah melancarkan serangan besar-besaran, menghancurkan infrastruktur Hamas, dan mengerahkan divisi tambahan, hasilnya tidak sesuai harapan. “Kita tidak akan bisa membunuh setiap anggota Hamas atau menghancurkan setiap roket mereka. Jumlah mereka seolah tidak terbatas,” katanya.
Paralel dengan Sejarah
Menggali dari pengalaman masa lalu, Ben-David memperingatkan bahwa operasi militer di wilayah asing sering kali berujung pada kekalahan dan rasa malu. Dia mengacu pada invasi Lebanon pada 1982, yang menyebabkan Israel terperangkap dalam konflik selama 18 tahun. “Sejarah telah membuktikan bahwa penaklukan wilayah asing selalu dibayar dengan harga mahal. Kita harus belajar dari masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ungkapnya.
Imbauan untuk Pengurangan Perang
Ben-David menekankan perlunya pemikiran strategis dan sistematis dari para pemimpin politik Israel untuk menghindari jebakan yang lebih dalam. “Kita tidak memerlukan wilayah lebih banyak. Yang kita perlukan adalah pemulihan nasional dan pemulangan para sandera,” ujarnya. Dia mengimbau agar intensitas perang dikurangi untuk mencegah pertumpahan darah yang tidak perlu.
Dalam pandangannya, Israel harus mengambil langkah konkret untuk keluar dari konflik berkepanjangan dan fokus pada upaya membangun perdamaian yang berkelanjutan. Tanpa pendekatan baru, risiko terjebak dalam konflik berdarah akan terus menghantui Israel di tahun-tahun mendatang.