(Newsindomedia) – Jerman Setujui Ekspor Senjata Senilai EUR30 Juta ke Israel di Tengah Sorotan Internasional
Pemerintah Jerman kembali menyetujui ekspor senjata ke Israel senilai lebih dari EUR30 juta (USD31,2 juta) dalam beberapa pekan terakhir, seperti dilaporkan majalah Der Spiegel pada Selasa. Sepanjang tahun 2024, total nilai ekspor senjata Jerman ke Israel telah melebihi EUR160 juta, meskipun kritik global terhadap tindakan militer Israel di Jalur Gaza terus meningkat.
Menurut laporan tersebut, data terbaru terkait ekspor ini dirilis oleh Kementerian Ekonomi Jerman setelah dilakukan penyelidikan. Meski demikian, Jerman belum mengizinkan pengiriman senjata perang, seperti artileri atau amunisi tank, yang sebelumnya diminta secara khusus oleh Tel Aviv pascaserangan Hamas pada Oktober 2023.
Salah satu item yang telah disetujui untuk dikirim adalah transmisi tank Merkava buatan Israel, yang diproduksi di Jerman. Persetujuan pengiriman ini diberikan pada musim panas lalu, sebelum meningkatnya tensi konflik di Gaza.
Pada Maret 2024, Jerman menghentikan sementara pengiriman senjata yang dianggap dapat digunakan dalam konflik di Gaza. Langkah ini diambil setelah Nikaragua mengajukan gugatan terhadap Jerman di Mahkamah Internasional (ICJ), menuduhnya berkontribusi pada dugaan genosida di Gaza.
Sebagai sekutu lama Israel, Jerman kerap menekankan tanggung jawab sejarahnya terhadap keamanan Israel. Kanselir Olaf Scholz berulang kali menyuarakan komitmen tersebut, yang dilatarbelakangi oleh sejarah Holocaust. Namun, sejumlah pihak mengkritik dukungan Jerman terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dengan alasan hal ini dapat merusak reputasi internasional Berlin.
Sejak Oktober 2023, konflik antara Israel dan Hamas di Gaza telah menyebabkan lebih dari 45.300 korban jiwa, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta lebih dari 105.000 orang terluka. Israel juga menghadapi gugatan genosida di ICJ atas tindakannya di Gaza, di mana jutaan warga Palestina menghadapi situasi kemanusiaan yang memburuk, termasuk kekurangan makanan, pasokan medis, dan kebutuhan pokok lainnya. (nsb/newsindomedia)