Amerika, (Newsindomedia) Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan agar Panama menurunkan biaya penggunaan Terusan Panama atau mengembalikan kendali atas terusan tersebut kepada Amerika Serikat. Dalam pidatonya di Arizona, Minggu (22/12/2024), Trump menuduh Panama menetapkan tarif tinggi yang tidak masuk akal untuk kapal-kapal pengiriman dan angkatan laut AS.
“Biaya yang dikenakan Panama benar-benar tidak masuk akal dan sangat tidak adil,” ujar Trump di hadapan para pendukungnya. “Penipuan seperti ini terhadap negara kita harus segera dihentikan,” tambahnya.
Pernyataan tersebut langsung ditanggapi oleh Presiden Panama, José Raúl Mulino, yang menegaskan bahwa Terusan Panama sepenuhnya adalah milik negaranya. “Setiap meter persegi dari terusan ini adalah bagian dari kedaulatan kami, dan hal itu tidak dapat dinegosiasikan,” kata Mulino dalam pernyataannya.
Peninggalan Bersejarah dan Kedaulatan Panama
Terusan Panama, yang membentang sepanjang 82 kilometer, menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Dibangun pada awal abad ke-20, terusan ini pernah berada di bawah kendali Amerika Serikat hingga 1977, ketika perjanjian menyerahkan kendali secara bertahap kepada Panama. Sejak 1999, Panama memegang kendali penuh atas terusan tersebut, yang setiap tahunnya menjadi jalur bagi sekitar 14.000 kapal pengangkut barang dan militer.
Trump menyebut terusan tersebut sebagai “aset nasional vital” bagi Amerika Serikat. Ia bahkan mengancam, jika tarif pengiriman tidak diturunkan, maka Washington akan menuntut pengembalian kendali penuh atas terusan tersebut. Namun, Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk merealisasikan tuntutan tersebut.
Pidato di Depan Aktivis Konservatif
Komentar Trump disampaikan dalam acara tahunan Turning Point USA, sebuah kelompok aktivis konservatif yang memberikan dukungan besar dalam kampanye pemilihannya. Dalam pidatonya, Trump mengangkat isu-isu utama yang menjadi ciri khas kampanyenya, seperti perdagangan internasional, imigrasi, dan kriminalitas.
Selain menyoroti Panama, Trump juga mengkritik Kanada dan Meksiko atas apa yang disebutnya sebagai praktik perdagangan tidak adil. Namun, ia menyampaikan pujian kepada Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, yang ia gambarkan sebagai “pemimpin luar biasa.”
Pidato ini juga menjadi kesempatan pertama bagi Trump untuk berbicara di depan publik setelah Kongres menyepakati langkah untuk mencegah penutupan pemerintahan AS. Meski Trump mendukung kebijakan untuk meningkatkan batas utang negara, isu tersebut tidak menjadi bagian dari pidatonya kali ini.
Sebaliknya, Trump lebih banyak berbicara tentang kemenangan pemilihannya dan berbagai tantangan yang dihadapi AS. Ia bahkan sempat menyinggung Elon Musk dalam nada bercanda, menepis spekulasi bahwa Musk akan menjadi presiden berikutnya. “Tidak, itu tidak akan terjadi,” ujarnya.
Dampak Diplomatik dan Kebijakan Luar Negeri
Pernyataan Trump tentang Terusan Panama menunjukkan potensi pergeseran dalam kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahannya. Namun, komentar ini juga memicu kekhawatiran mengenai bagaimana hubungan AS dengan negara-negara lain, terutama di kawasan Amerika Tengah, akan berkembang setelah ia resmi menjabat pada 20 Januari 2025. (nsb/newsindomedia)